Search This Blog

Страницы

Gita

GITA OLEH SANG DEWI
(alih bahasa awal dalam bahasa Indonesia)      

1. [Lain]
Bangunlah! Aku bukan esa dan banyak 
inti Aku ialah tak terhitung;
Aku bukan ibu atau perawan 
sesungguhnya, Aku lain dari segala-galanya;
kepada lain ketuhanan – kepercayaan tak bernama
barang siapa yang tidak mendoakan sesuatu;
telah mempunyai semua, kaya dengan roh
terbang keluar kelimpahan ke moksa.
————

2. [Merpati]
………! perkenankanlah daku kembali kepada Engkau, 
berikanlah daku pendengar, perasaan serta ucapan, 
diperkenankan mendekati dengan wajah lazuardi, 
seumpama burung yang melambung ke awan, 
bukan melayang tinggi dengan melacak sasaran, 
bukan mengepakkan sayapnya setelah mendengar bisikan ular, 
melainkan berputar-putar bagai merpati yang terbang ke atas –
dengan mengikuti arus di sawangan langit. 
                                 
3. [Keperempuanan]
Sang Dewi, Fea, Inkosazana, Si-wan-mu, Allat, Ya-nebya ...
Alangkah nama-nama yang ajaib, tapi itu sekadar sebagian saja, 
seeluruhnya adalah takdir rahasia-Mu – 
oh, sekiranya disampaikan kepada orang lain! 
Tapi Engkau tak bakal meninggalkan kerinduan mereka, 
Hati siapa yang dahaga akan kasih. 
Apakah akan lebih bisa membahagiakan kami
daripada keperempuanan Dikau.

4. [Diangkat]
Ya Sang Dewiku, Sang Prabuku – 
yang tak layu pelindung ketenteraman. 
Engkau sanggup segalanya. Tatkala bisa 
melahirkan tak terhitung jumlahnya dunia, 
karena kodrat-Mu yang tersubur dari semua bekas, 
Engkau diangkat sedikit. Mana pun dari semua makhluk 
berbahagia yang dengan sepikiran saja: 
semi nasib ialah Ibunda Ketuhanan.

5. [Rintisan]
Ya maha seri, elok dan bajik, 
membahagiakan, peka terhadap doa; 
tiada kata-kata yang memerikan sifat kodrat-Mu. 
Oh, sekiranya kata itu adalah tabiat-Mu; 
maka gita dituangkan ke jiwa-jiwa yang dilanda bahang. 
Tapi tidak, itu cuma tanda keberadaan lain. 
Lain rintisan ke arah Engkau, yaitu jalan kehidupan, 
aliran pengalaman, kesadaran Dikau.

6. [Nihil]
Kau bukanlah ciptaan dan tidak membutuhkannya,
Kau Sang pencipta dan piawai
semata-mata dengan kodrat sendiri.
Dengan tidak merupakan bagian maupun keutuhan seluruhnya
Engkau dapat menjelma semua citra.
Mungkin – dari bukan apa-apa menjadi berdirinya bajik,
atau – pengembalian dunia-dunia ke bukan wujud.
Engkau sendiri berdaya menjadi nihil.

7. [Citra]
Dengan peringatan semua kebenaran
Engkau turun ke semua orang. 
Tengah datang Engkau ke setiap bangsa, di tiap rumah, 
maka citra istri sayang dan penyayang 
atau pacar yang menawan, 
maka selaku sang ibu yang peduli, kakak atau yatim. 
Swakuasa-Mu masih sanggup 
menyambung tiada ujung pangkal dengan akhir.

8. [Utusan]
Itu pun kepenuhan penyelamatan sifat insani 
terjadi bila jasad lelaki 
ikut serta dalam ziarah-Nya di pertiwi. 
Menjadi seorang utusan kepada umat siapa 
yang telah Dia pilih dan disandingkan ke sendiri. 
Bagi rasul kepada rakyat untuk berbicara 
penengah dengan swarga buat apa, 
selagi menghangatkan dia dengan perhatian – Dia  Sendiri ...
————

9. [Hawa]
Sekali peristiwa Engkau telah muncul Hawa. 
Di taman yang indah serta menemui Adam, 
Engkau menjadi isterinya yang setia. 
Lalu memberikan anak-anak yang baik, 
yang terutama – buah pembedaan tentang yang jahat dan yang baik. 
Lalu telah mengajar segala nama yang dicipta, 
yang membuka hati mereka untuk kearifan 
dan rindu tahu akan Dikau.

10. [Sati]
Engkau pernah menjadi puteri bernama Sati, 
tapi jatuh cinta dengan Sri Syiwa yang bersemangat perang, 
telah menarik murka ayahnya yang mengancam. 
Maka pada hari pengorbanan cahaya, 
yang dipisahkan menceburkan ke api, 
dengan disajikan pelajaran kasih panas dan berkorban. 
Dan Syiwa telah melakukan wejangannya
dan diajarkan hidup dan mati demi Engkau.

11. [Alkhmene]
Di bukit-bukit bebatuan 
negeri yang berkat 
di bhuwana dari keturunan ningrat 
telah didatangi Alkhmene suci.
Putra Herakles demi Engkau
pergi untuk kepahlawanan – yang tanpa jumlah – 
dengan menjernihkan jiwa-jiwa manusia 
dari noda-noda yang berakar.
  
12. [Nefertiti]
Nefertiti ilahiat serta Akhenaten bermakhota 
sekali mendapatkan diri di antara pegunungan. 
Di antara duanya matahari tengah terbenam, 
dan sembari menuding ke sinaran cakrawala biru 
Engkau dikuak dan menguak dunia. 
Sejak itu, ia memikirkan cuma Dia 
Yang menampakkan diri sedang maraknya di langit memancarkan 
dan memanaskan tapak-tapak yang terentang.

13. [Radha]
Bila Krisyna beranjak akil balig di antara rerumputan Vrindavan, 
Kepada-nya Radha menampakkan diri selaku seorang gembala. 
Engkau menawan dia dengan kecantikannya 
dan mengisi kesejukan hidup di hari yang panas terik. 
Cinta berbahagia yang bersamayam dalam kalbu mereka 
yang melihat dalam Radha kama hayatnya, 
tempat kediaman semadi mereka, 
target dan sumber perasaan.

14. [Maryam]
Engkau tetap dalam ingatan ummah dalam bayang Maryam 
Yang memilih seorang utusan-Nya
Yesus, putra-Nya tercinta.
Pernah berada Engkau serentak dia bila ia turun ke umat 
dan - ketika mereka sih memalingkan muka dari-nya. 
Anak dibenarkan pengharapan untuk menggurui banyak. 
Kabar baik, tiada lebih gede: 
Ibu Dewi ialah penyejuk hati.

15. [Sewnye]
Tinggal anak-anak dari Yabta Salya, kakak beradik. 
Sewnye kedewian, masih sendiri pemudi, 
dalam adinda kandung telah ditemukan siapa 
yang tak terkalahkan dari cinta kepada kakaknya, 
Engkau sudah dibebaskan dari kurungan. 
Kalian terselamat di tepi tanjung
dari kekuatan jahat yang menguber kaum kecil, 
dan membahagiakan orang awam.

16. [Khadidjah]
Ya Khadidjah, lama Engkau menunggu siapa 
yang akan memadu para cinta kebebasan. 
Ditemukan seorang yatim Muhammad 
yang setia dan jujur ​​dari rakyat. 
Dia pernah menjadi seorang piatu, – dan Engkau berkerabat dengan ia, 
menjadi miskin, – Engkau memperkaya,
buta huruf, – Engkau membuatnya 
pengundang-undang akan orang banyak.

17. [Mama Okllo]
Ya Mama Okllo dan Manko Kapak – 
siapa Kamu Sekalian? – 
kakak beradik 
atau isteri suami. 
Betapa bagusnya Kalian pernah merawat 
bagi semua bernyawa di sekitar Anda; 
bahkan dari beban galian tanah 
berkaki empat tertolong.

18. [Tian Hou]
Tian Hou muda mendahului kami,
sempat mengamankan banyak orang di tengah ombak. 
Saudara-saudara bayang yang tampil di laut 
dibawa melalui hidupnya, sembar mengatakan: 
hal mana bukan siapa pun yang berani untuk menyatakan 
bahwa akan Dia diperlukan sebarang tempat 
bahwa waktu keabadian dan waktu perubahan, 
bahwa waktu akibat-akibat dan waktu alasannya.

19. [Bibi Nanaki]
Ya Sri bijaksana Bibi Nanaki!
Pernah layak menjadi adinda-Mu.
Sejak lahirnya Nanak terpanggil Engkau 
jadi pelita kesalahpahaman. 
Sang pelindung masa kanak-kanaknya, – 
bila orang karibnya menganggap dia gila
dan pertapa di dalam hayat; dan di masa remaja 
di bawah kerudung sendiri ke Sultanpuri diambil.

20. [Cugul]
Lalu Kau menampakkan diri sebagai Cugul, 
menjadi yatim piatu untuk mengetahui masa-masa sulit. 
Tapi Cet merahmati yang memang Sang Abai 
akan siapa Engkau lebih kerabat daripada putrinya sendiri. 
Untuk itu Engkau menguakkan diri akan dia 
dan mengajarkan iman nirmala putih 
yang tak berdarah dan penuh 
seakan-akan sungai-sungai susu ...
————

21. [Perbauran]
Keuntungan akan perbauran dengan Dikau
dianugerahi pada orang yang mencintai Engkau. 
Hanya siapa yang memikirkan Dikau setiap saat, 
yang keranjingan Dikau, 
yang didekam dengan keinginan untuk memiliki 
keagungan kodrat keelokan Dikau, 
mengharap melihat bayangan
durja ilahiat di air muka angkasa.

22. [Isteri]
Misteri tak bumiawi oleh Bunda swargaloka 
sering terkuak kepada sukma yang bakti 
dalam rupa isteri terpilih;
yang laksana Engkaulah dengan tubuh yang indah 
dan tutur pelipur di saat yang gelap 
mampu pada detik kemesraan tertinggi 
melambungkan sifat kaum taat 
melalui semua dunia yang mungkin dan maujud.

23. [Angin]
Akan tetapi ingatlah: kao diberikan gairah 
tidak untuk biakan yang tak terhingga 
yang mengurangi sejarah manusiawi. 
Tinggalkanlah sesegeranya pergerakan kerumunan 
dan kao akan melihat aliran segar, 
di atasnya bahtera segala rasa.
Belayarlah dari dermaga yang diam, 
dan akan menjadi angin baik itu Aku Sendiri.
                             
24. [Derma]
Jangan perbantahan kata, 
tidak perlu sekam mandul.
Tanggalkanlah seni ritual-ritual
yang untuk kalbu-kalbu tiruan. 
Itukah semangat rendah hati 
yang derma buat keperluan,
kehangatan untuk si sakit,
keterbukaan di antara sesama insan.

25. [Titah]
Widya, Torah, Quran dan lebih 
beribu-ribu ribuan titah. 
Tapi apa gunanya bagi mereka 
yang siapa penentang ucapan-ucapan hidup, – 
sia-sia iman dan doa mereka. 
Bagi tiap sastera serta nabi ada tenggangnya; 
dan kala bakal berlalu Sang tubuh Itu 
yang nanti datang dan melipurkan kami.

26. [Pantang]
Kini tiada larangan dalam santapan, 
dan apa kerugian – orang itu sendiri tahu. 
Saat ini sudah tiada pantang-pantang, – 
tidakkah ada perasaan yang diberikan oleh Engkau? 
tidakkah tubuhku merupakan bagian dari alam? 
tidakkah mulutku menyantap tubuh? 
Bukankah tubuh atas segala tubuh Engkau punya 
yang mendekatkan semesta jagat kepada Diri-Nya?
                       
27. [Bakti]
Akan pergi para bakti beserta Maha Tinggi 
ke pinggi semua kesempatan.
Pergilah kami demi Dia tak karena kemahasaktian-Nya, 
pergi tanpa pemikiran akan pahala, 
rela berkorban layak bagi Kau. 
Dan walau pun sekali basuh diri di samudra 
yang sejuk, hangat dan tidak bertepi 
akan kemolekan-Mu surgawi.

28. [Awatara]
Waktu awatara telah tibalah
Dewi Suci di antara keturunan manusia
langsun berupa jernih murni,
daripada semua yang dulu – hanya perintis. 
Bhuwana sudah mampu mendengar suara wanita; 
siap secara rohani untuk menerima Dia 
yang menunggu dan percaya
bahwa ada kesempurnaan di dunia.
                               
29. [Mahkota]
Jam pengujian telah dipukul. 
Seorang ingin mujizat dan tanda bak sebelumnya. 
Apakah itu Sang Mahkota swarga, 
dengan es berkilauan di atas jagat raya, 
dengan mengalirsama Sendirinya,
akan turun untuk kami pada waktunya, – 
mujizat yang nyata segala mujizat?
Seandainya iman tak meninggalkan kami ...

30. [Moksa]
Kebendaan mengulangi bahwa segalanya esa,
keesaan segala-galanya ialah tuhan;
jadi bagian pada segalanya  bukan kebebasan,
moksa itu menjadi semua.
Roh mengujar: lain dari segalanya ada,
yang dewata ialah sebatas-nya;
memeluk segalanya  belum moksa,
kebebasan  di luar musabab semua.

No comments:

Post a Comment